Senin, 07 Juli 2014

Laporan Praktikum Kimia Analitik
Analisa Thermogravimetrik untuk
Menguji Kadar Air pada Tepung




Ketua               : Adeline Genie Natan (203137168965813)
 Anggota          : Barani Lerida (203136776815600)


Tanggal Percobaan: 27 Juni 2014
Tanggal Pembuatan Laporan: 02 Juli 2014

Program Studi Nutrition and Food Technology
Fakultas Life Science
Surya University
Tangerang
2014

ABSTRAK
ANALISA TERMOGRAVIMETRIK UNTUK MENGUJI
KADAR AIR (MOISTURE CINTENT)
PADA TEPUNG
Adeline Genie N. dan Barani Lerida
Thermogravimetri adalah metode gravimetri (analisa kuantitatif dengan menghitung dengan tepat jumlah berat sampel) melalui proses pemanasan. Praktikum ini bertujuan untuk menganalisa kadar air tepung beras menggunakan metode thermogravimetri, menghitung kecepatan penguapan dan pengaruh luas penguapan terhadap kecepatan penguapan dan mengetahui perbedaan fenomena kinetika penguapan pada orde satu dan orde nol. Prinsip metode ini yaitu menguapkan air yang terkandung dalam tepung beras dengan cara dipanaskan di dalam oven dengan waktu tertentu (biasanya 1,5-2 jam) lalu sampel ditimbang hingga berat sampel konstan. Suhu yang digunakan pada praktikum ini yaitu suhu konstan 105oC. Sampel yang digunakan yaitu tepung beras merek “Rosebrand” dengan berat kurang lebih 4,0000 gram. Wadah yang digunakan mempunyai diameter 3,6 cm dan 5,9 cm. Sampel dimasukkan ke dalam wadah lalu dipanaskan di dalam oven bersuhu 105oC dengan periode 10 menit sekali (untuk 40 menit pertama) dan 20 menit (untuk menit ke 60-100) dilanjutkan dengan penimbangan sampel menggunakan neraca analitik untuk mengetahui berat tepung yang hilang yang diklaim sebagai jumlah air yang menguap. Untuk 60 menit terakhir, setelah dikeluarkan dari oven sampel dimasukkan ke dalam dessicator terlebih dahulu sebelum proses penimbangan. Kesalahan yang mempengaruhi hasil penelitian yaitu adanya interaksi tepung dengan udara, uap dari lingkungan dan fluktuasi ketika penimbangan. Batas maksimum kadar air yang dianjurkan SNI yaitu 13%. Hasil yang diperoleh yaitu rata-rata kadar air pada sampel sebesar 12,2846% dengan standar deviasi sebesar 0,1190.
1.      Tujuan Percobaan
Tujuan praktikum ini yaitu:
a.       Menganalisa kadar air bahan melalui proses thermogravimetrik
b.      Menghitung kecepatan penguapan pada sampel dan mengamati pengaruh luas permukaan sampel terhadap kecepatan penguapan
c.       Mempelajari kinetika proses penguapan serta perbedaan fenomena laju penguapan melalui proses kinetika orde satu diawal proses pengeringan, dan orde nol (difusi) pada akhir proses.

2.      Teori/ Hipotesis
Analisa gravimetri yaitu analisa kuantitatif untuk menentukan secara akurat jumlah suatu bahan melalui proses penimbangan. Gravimetri bisa dilakukan dengan cara pengendapan, penguapan, dan elektrolisis. Dalam percobaan ini, analisis gravimetri dilakukan karena pengaruh dari suhu (pemanasan.) Sehingga teknik gravimetri yang digunakan adalah termogravimetri. Termogravimetri adalah suatu teknik dalam yang mana suatu perubahan bobot suatu zat direkam sebagai fungsi dari temperatur dan waktu. Pada praktikum ini berat pada penimbangan harus sampai konstan artinya selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,2 mg (0,0002 g). Penimbangan di sini merupakan penimbangan hasil reaksi setelah zat yang dianalisis direaksikan.
Tepung adalah partikel padat yang berbentuk butiran halus. Tepung beras adalah tepung yang diperoleh dari penggilingan atau penumbukan beras dari tanaman padi (Oryza sativa). Menurut Badan Standar Nasional mengenai Standar Nasional Indonesia tentang tepung beras, kadar air maksimal yang ditolerir adalah 13%.
Dalam percobaan ini, suhu yang digunakan untuk memanaskan tepung adalah 105C. Selama melakukan analisis termogravimetri, terjadi proses penguapan air dari dalam tepung. Sebuah sistem yang berubah disebut dengan kinetika. Kinetika memberikan ukuran seberapa cepat proses dalam sistem dapat terjadi. Sistem yang diteliti berubah terhadap waktu sehingga perhitungan yang digunakan merupakan fungsi diferensial dari variabel waktu d[C]/dt. Laju reaksi adalah sebuah sistem yang mula-mula berada dalam kesemtimbangan jika dilakukan penambahan/pengurangan komponen (misalnya reaktan) di dalamnya merubah tekanan/suhu, maka sistemnya juga berubah termasuk perubahan kimia. Faktor yang mempengaruhi laju reaksi antara lain: konsentrasi reaktan, konsentrasi katalisator, suhu dan tekanan.
Orde reaksi dipengaruhi konsentrasi reaktan [A] dan dapat dinyatakan dengan :
k = tetapan laju reaksi
α = order reaksi untuk reaktan A
β = order reaksi untuk reaktan B

Terdapat 2 orde reaksi dalam fungsi berat sampel tepung terhadap waktu, yaitu orde satu dan orde nol. Orde reaksi menyatakan besarnya pengaruh konsentrasi reaktan (pereaksi) terhadap laju reaksi.Suatu reaksi dikatakan memiliki orde nol jika laju reaksi tidak dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan. Sedangkan suatu reaksi dikatakan memiliki orde satu jika laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi. Beikut ini merupakan gambar contoh grafik orde nol dan orde satu:


Kadar air diperoleh didapatkan dari rumus :
Catatan : semua berat sampel sudah dikurangi berat wadah timbang kosong

3.      Prosedur
Prosedur pada praktikum ini sebagian besar sama dengan modul praktikum, perbedaannya yaitu pada menit ke 10-40, wadah yang berisi tepung setelah dikeluarkan dari oven tidak dimasukkan ke dessikator terlebih dahulu. Untuk menit ke 60, 80 dan 100, setelah wadah yang berisi tepung dikeluarkan dari oven harus dimasukkan terlebih dahulu ke dalam desikator selama 3 menit. Selain itu, dalam praktikum ini hanya menggunakan 4 wadah yang berisi sampel. Dua wadah yang mempunyai luas permukaan lebih kecil dan dua wadah yang mempunyai luas permukaan lebih besar.

4.      Data dan Hasil Perhitungan

Tabel 4.1. Data Wadah Kosong, Diameter Wadah dan Luas Permukaan Wadah

A
B
C
D
Berat (gram)
3,8419
3,8397
6,6928
6,3384
Diameter (cm)
3,6000
3,6000
5,9000
5,8000
Luas permukaan (cm2)
10,1289
10,1289
27,3507
26,4314

Tabel 4.2. Data Berat Sampel terhadap Waktu

Nama Wadah
Menit Ke-
A (gram)
B (gram)
C (gram)
D (gram)
0
3,9438
3,9695
3,9929
3,9899
10
3,7475
3,7675
3,7461
3,7355
20
3,6440
3,6673
3,6403
3,6253
30
3,5840
3,6031
3,5812
3,5694
40
3,5375
3,5577
3,5147
3,5246
60
3,4838
3,5056
3,5429
3,5335
80
3,4675
3,4880
3,5100
3,5071
100
3,4554
3,4777
3,5057
3,5046

Tabel 4.3. Kadar Air (%) dan Nilai Ln (% Kadar Air)
Nama Wadah
Menit Ke-
A
B
C
D
Kadar Air (%)
Ln % Air
Kadar Air (%)
Ln % Air
Kadar Air (%)
Ln %Air
Kadar Air (%)
Ln % Air
0
12,3840
2,5164
12,3895
2,5168
12,2017
2,5016
12,1632
2,4984
10
7,7945
2,0534
7,6921
2,0402
6,4173
1,8590
6,1812
1,8215
20
5,1756
1,6440
5,1700
1,6429
3,6975
1,3077
3,3294
1,2028
30
3,5882
1,2776
3,4803
1,2471
2,1082
0,7458
1,8154
0,5963
40
2,3208
0,8419
2,2486
0,8103
0,2561
-1,3623
0,5674
-0,5666
60
0,8152
-0,2043
0,7959
-0,2283
1,0500
0,0488
0,8179
-0,2010
80
0,3490
-1,0528
0,2953
-1,2198
0,1225
-2,0996
0,0713
-2,6411
100
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000


Kadar air pada tepung di wadah A = 12,3840 %
Kadar air pada tepung di wadah B = 12,3895 %
Kadar air pada tepung di wadah A = 12,2017 %
Kadar air pada tepung di wadah A = 12,1632 %
Rata-rata kadar air pada tepung = 
Standar deviasi =
 
Tabel 4.4. Kecepatan Penguapan dan Fluks Penguapan
Me-nit Ke
Nama Wadah
A
B
C
D
Kece-patan (g/min)
Fluks
Kece-patan
(g/min)
Fluks
Kece-patan (g/min)
Fluks
Kece-patan
(g/min)
Fluks
0
0,000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
10
0,0196
0,0019
0,0202
0,0020
0,0247
0,0009
0,02544
0,00096
20
0,0150
0,0015
0,0151
0,0015
0,0176
0,0006
0,01823
0,00069
30
0,0120
0,0012
0,0122
0,0012
0,0137
0,0005
0,01402
0,00053
40
0,0102
0,0010
0,0103
0,0010
0,0120
0,0004
0,01163
0,00044
60
0,0077
0,0008
0,0077
0,0008
0,0075
0,0003
0,00761
0,00029
80
0,0060
0,0006
0,0060
0,0006
0,0060
0,0002
0,00604
0,00023
100
0,0049
0,0005
0,0049
0,0005
0,0049
0,0002
0,00485
0,00018


Grafik 4.1. Berat Sampel terhadap Waktu pada Wadah A

       

Grafik 4.2. Berat Sampel terhadap Waktu pada Wadah B

Grafik 4.3. Berat Sampel terhadap Waktu pada Wadah C

Grafik 4.4. Berat Sampel terhadap Waktu Wadah D

Grafik 4.5. Kinetika Penguapan Orde Satu Wadah A
Grafik 4.6. Kinetika Penguapan Orde Satu Wadah A

Grafik 4.7. Kinetika Penguapan Orde Satu Wadah A
Grafik 4.8. Kinetika Penguapan Orde Satu Wadah A
Grafik 4.9. Kinetika Penguapan Orde Nol Wadah A

Grafik 4.10. Kinetika Penguapan Orde Nol Wadah B
Grafik 4.11. Kinetika Penguapan Orde Nol Wadah C
Grafik 4.12. Kinetika Penguapan Orde Nol Wadah D

Grafik 4.13. Flux terhadap Waktu

5.      Hasil Diskusi
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar air dalam tepung beras. Kadar air dihitung dari rasio antara berat sampel awal dikurangi berat sampel akhir dibagi berat sampel awal dikali 100%. Hitung rata-rata kadar air yang sudah didapatkan dari hasil perhitungan tersebut. Berat sampel yang digunakan kurang lebih 4,0000 gram dengan dua variasi wadah yaitu yang berdiameter 3,6 cm dan 5,9 cm. Variasi ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh permukaan terhadap kecepatan penguapan.
Suhu yang digunakan pada oven dalam praktikum ini yaitu 105oC. Suhu tersebut dipilih karena penguapan air pada tepung berjalan optimum. Jika suhu dinaikkan menjadi 150oC, dikhawatirkan tidak bisa memplot data karena penguapan terjadi sangat cepat. Jika suhu kurang dari 105oC (misalnya 50oC) sampel terlalu lama menguap sehingga waktu yang dibutuhkan relatif lama dan tidak efisien terhadap penggunaan listrik untuk mengoperasikan oven tersebut. Setiap 10 menit sekali (untuk 40 menit pertama) sampel melalui proses penimbangan dengan tujuan mengetahui berat sampel yang hilang. Berat yang hilang inilah yang diklaim sebagai kadar air dalam tepung yang menguap akibat proses pemanasan dalam oven. Untuk menit selanjutnya, penimbangan dilakukan setiap 20 menit sekali (menit ke 60,80 dan 100) serta melalui pengeringan dalam dessicator selama 3 menit sehingga tidak terjadi fluktuasi saat penimbangan berlangsung. Ketika proses pengambilan sampel dari oven untuk ditimbang di neraca analitik, ada interaksi antara sampel terhadap udara. Kemungkinan ada sampel yang terbang ke udara sehingga mempengaruhi hasil penimbangan. Uap air di lingkungan juga dapat mempengaruhi keakuratan dalam praktikum ini.
Pada grafik 4.1 dan 4.2 kurva yang didapatkan cukup baik karena sesuai dengan modul (bentuk kurva). Dari proses pengeringan yang terjadi terhadap waktu, proses penguapan mendekati akhir pada menit ke 60 sampai menit ke 100. Pada menit-menit terakhir ini kurva cenderung relatif turun sangat kecil yang menunjukkan bahwa proses penguapan hampir berakhir. Jika terjadi kenaikan berat sampel (seperti yang terlihat pada grafik 4.3. dan 4.4) kemungkinan sampel sudah terlalu kering sehingga mudah sekali mengikat air yang terdapat di udara (uap di udara) sehingga berat tepung bertambah saat proses penimbangan. Selain itu, fluktuasi hasil penimbangan juga bisa disebabkan kesalahan praktikan dalam proses penimbangan itu sendiri. Misalnya angka pada neraca analitik belum stabil (masih terjadi peningkatan/penurunan angka) namun proses penimbangan sudah diakhiri. Selain itu, luas permukaan pada wadah sampel tidak berpengaruh terhadap kadar air yang diperoleh. Hal ini terbukti dari kadar air yang diperoleh dari masing-masing wadah tidak jauh berbeda sekitar kurang lebih 12%.
Dari Grafik 4.5 sampai 4.8. terlihat bahwa dari data yang diplot ke dalam grafik menunjukkan trend berupa garis linear. Hal ini menunjukkan bahwa asumsi kinetika penguapan orde satu dapat dibuktikan dan benar. Slope yang dihasilkan dari grafik 4.5 sampai 4.8 berturut-turut yaitu -0,0413, -0,0421, -0,0582, -0,0633. Data yang diplot ke dalam grafik orde satu ini yaitu data dari menit ke 0 sampai menit ke 30. Pada fenomena orde satu ini kecepatan proses penguapan bergantung pada jumlah atau konsentrasi air yang tersisa dalam sampel atau bisa juga dihitung dari berat tepung yang hilang.
Selanjutnya dari grafik 4.9. sampai 4.12 menunjukkan kinetika penguapan pada orde nol. Orde nol ini merupakan fenomena dimana kecepatan penguapan air ditentukan berdasarkan proses difusi molekul air melalui matriks sampel hingga mencapai permukaan lalu menguap ke udara. Orde nol ini hanya berlaku pada akhr proses pengeringan biasanya pada menit ke 60 sampai ke menit 80. Jika lebih dari menit ke 80 penguapan tidak dapat dideteksi lagi. Trend garis yang didapatkan dari plot data menunjukkan bahwa fenomena orde nolpada akhir proses pengeringan dapat dibuktikan dan benar karena trend garis yang dihasilkan berupa trend garis linear.
Berdasarkan grafik yang menunjukkan fenomena orde satu dan orde nol terlihat slope yang diperoleh adalah negatif. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan kecepatan penguapan. Karena semakin lama waktu yang dibutuhkan (waktu menjadi sumbu x) semakin kecil nilai ln % air (untuk orde satu) dan % air (untuk orde nol). Diperkuat oleh data perhitungan di Tabel 4.4. Kecepatan Penguapan dan Fluks Penguapan yang menjelaskan bahwa terjadi penurunan kecepatan penguapan.
Pada grafik 4.13 terlihat bahwa flux antara wadah A (luas permukaan = 10,1289 cm2) dan wadah C (luas permukaan = 27,3507 cm2) berbeda. Trend kurva flux wadah C berada dibawah kurva flux wadah A. Hal ini menunjukkan bahwa wadah yang lebih besar luas permukaannya (wadah C) berbanding lurus dengan kecepatan penguapan sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar luas permukaan, semakin besar pula nilai kecepatan penguapan.
Sumber-sumber eror yang dapat mempengaruhi keakuratan hasil praktikum ini antara lain adanya interaksi antara tepung dengan udara, adanya interaksi tepung dengan uap air, fluktuasi saat proses penimbangan karena tidak dimasukkan terlebih dahulu ke dalam dessicator (untuk 40 menit pertama), suhu di dalam oven kadang tidak konstan 105oC karena panas dalam oven dapat berubah ketika oven dibuka untuk mengambil sampel yang dilanjutkan proses penimbangan, keterbatasan neraca analitik dan dessicator juga dapat mempengaruhi hasil data karena praktikan harus mengantri untuk menggunakan alat tersebut sehingga kemungkinan interaksi tepung dengan udara dan dengan air semakin meningkat.
Dalam praktikum ini, kadar air rata-rata yang didapatkan adalah 12,2468 % dengan standar deviasi 0,1190 sedangkan berdasarkan menurut literatur dari Standar Nasional Indonesia (SNI) Tepung Beras 01-3549-2009 kadar air maksimum yang diperbolehkan adalah 13% sehingga tepung beras merk “Rosebrand” sudah berstandar SNI. Hasil yang diperoleh relatif baik karena standar deviasi yang didapatkan kecil.




6.      Kesimpulan
Kesimpulan praktikum ini yaitu kadar air rata-rata yang diperoleh dari tepung beras merek “Rosebrand” adalah 12,2468% dengan standar deviasi sebesar 0,1190; luas permukaan berpengaruh terhadap kecepatan penguapan (semakin besar luas penguapan semakin besar nilai kecepatan penguapan); fenomena orde satu dan orde nol terbukti karena trend garis yang didapatkan berupa garis linear; dan kadar air tepung beras merek “Rosebrand” sudah sesuai SNI karena kurang dari 13%. Eror yang terjadi pada praktikum ini antara lain adanya interaksi anata tepung dengan udara dan uap air di lingkungan, fluktuasi saat penimbangan dan kurangnya jumlah dessicator dan skill praktikan yang masih perlu ditingkatkan.

7.      Referensi

BADAN STANDARISASI NASIONAL. (2009). Standar Nasional Indonesia Tepung Beras. [Diakses dan diunduh pada tanggal 1 Juli 2014 dari : http://agri.sucofindo.co.id/Extra/PDF/SNI_3549-2009__-_Tepung_Beras.pdf]
BASSET, J. (1994). Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.



Lampiran
 Sampel tepung beras yang digunakan
 Tepung beras di dalam wadah besar dan wadah kecil
 Tepung beras ditutup alumunium foil saat penimbangan pertama